Tragedi Dini Hari
by Sesshoumaru Kuroyanagi on Wednesday, December 1, 2010 at 9:00pm
21 Nopember 2010 dini hari di PPA
Kresek... kresek... dug dug dug... kresek...
Suara berisik nan mengganggu terdengar dari belakang lemari di pojojokan kamarku. Tapi aku tak peduli dan tetap melanjutkan tidurku. Begitu pula halnya Indri, teman sekamarku. beberapa saat kemudian, tiba-tiba...
Clekit. Aku kaget dan ujung jariku terasa sakit. Ada apa gerangan? Kulihat ujung jariku terluka dan meneteskan darah di kasur lantaiku.
"Huwaaa....!!! Sakit... Dasar wirog sialan...!!!" aku berteriak kesakitan.
Rupanya jariku 'dicium' oleh makhluk menyebalkan bernama wirog yang menyusup ke kamarku. Dasar wirog nyebelinnn!!!
"Kenapa teh teriak-teriak? tangannya digigit wirog yach?" tanya Indri yang juga terbangun gara-gara teriakanku.
"Iya neh... Ndri, anter ke kamar mandi yuk..." kataku.
"Ya dech..." kata Indri.
Aku dan Indri ke kamar mandi untuk membersihkan lukaku. Hmm... Darah yang keluar lumayan banyak juga, membuat kepalaku jadi pusing. Setelah selesai, kami kembali ke kamar. Di kamar kami tak langsung tidur, kami memukul-mukul lemari untuk mengusir makhuk bernama wirog itu. Tapi sang wirog tak kunjung keluar. Akhirnya kami berhenti memukul-mukul lemari dan melanjutkan tidur. ketika aku baru saja terlelap, tiba-tiba...
"Hwa....!!!Sakit...!! Dasar wirog sialan...!!!!" Indri berteriak keskitan.
"Kenapa, Ndri?" tanyaku.
"Kaki Indri digigit wirog neh... Duh... Sakit banget.." jawab Indri.
"Darahnya netes tuh, cuci dulu deh di kamar mandi" kataku saat melihat darah menetes dari kaki Indri.
Kami pun ke kamar mandi. Luka di kaki Indri lebih besar dan lebih banyak mengeluarkan darah daripda lukaku. Setelah itu kami kembali ke kamar. tapi Indri memintaku untuk tidur di kamar tetangga karena khawatir digigit wirog lagi. Aku setuju dan langsung menggedor pintu kamar tetangga.
"Sapur...! Teh Mus...! Dewi..! Bukain pintu dong...!!" Indri berteriak sambil menggedor pintu.
"Buka aja, belom dikunci koq..." terdengar jawaban dari dalam.
Aku dan Indri membuka pintu dan masuk ke kemar Safuroh. Kulihat Safuroh sedang sms-an dengan temannya, sedangkan Musfiroh dan Dewi masih tidur.
"Pada kenapa sich, koq pada bete gitu mukanya?" tanya Safuroh.
"Gimana gak bete, kita jadi korban gigitan wirog neh..." jawab Indri.
"Hah? Siapa yang digigit wirog?" tanya Musfiroh yang terbangun gara-gara suara Indri.
"Saya sama Indri jadi korban wirog," jawabku.
"Sap, koq belom tidur sich?" tanya Indri.
"He.. Lagi sms-an sama temen," jawab Safuroh
"Owh... Berarti tadi denger dong pas kita lagi mukul-mukul lemari?" kataku.
"Hah? Tapi Safuroh gak denger loh..." kata Safuroh.
"What?! Gak denger? Segitu kersanya koq gak denger?" Indri kaget
"Huh... Saking khusyu'nya sms-an tuch... Mus aja yang lagi tidur denger koq da yang ngedorin lemari," kata Musfiroh.
"Hehehe... Oia, neh kasih betadin biar gak infeksi," kata Safuroh sambil memberi kami betadin.
"Makasih" kata Indri.
"Sap, kita nginep di sini yach?" kataku meminta izin.
"Ya udah nginep aja," kata Safuroh.
Akhirnya aku dan Indri tidur di kamar Safuroh. Saat itu sudah hampir subuh, tapi kami tetap melanjutkan tidur. Pada saat adzan subuh berkumandang, kami semua bangun untuk menunaikan sholat subuh. Setelah sholat, aku, Indri, dan Musfiroh tidur lagi karena kami memang kurang tidur dan merasa tak enak badan. Dewi yang tadinya mau mengaji malah ikut tidur lagi. Jadilah kami berempat bolos ngaji di hari Minggu... Hehehe....
Kresek... kresek... dug dug dug... kresek...
Suara berisik nan mengganggu terdengar dari belakang lemari di pojojokan kamarku. Tapi aku tak peduli dan tetap melanjutkan tidurku. Begitu pula halnya Indri, teman sekamarku. beberapa saat kemudian, tiba-tiba...
Clekit. Aku kaget dan ujung jariku terasa sakit. Ada apa gerangan? Kulihat ujung jariku terluka dan meneteskan darah di kasur lantaiku.
"Huwaaa....!!! Sakit... Dasar wirog sialan...!!!" aku berteriak kesakitan.
Rupanya jariku 'dicium' oleh makhluk menyebalkan bernama wirog yang menyusup ke kamarku. Dasar wirog nyebelinnn!!!
"Kenapa teh teriak-teriak? tangannya digigit wirog yach?" tanya Indri yang juga terbangun gara-gara teriakanku.
"Iya neh... Ndri, anter ke kamar mandi yuk..." kataku.
"Ya dech..." kata Indri.
Aku dan Indri ke kamar mandi untuk membersihkan lukaku. Hmm... Darah yang keluar lumayan banyak juga, membuat kepalaku jadi pusing. Setelah selesai, kami kembali ke kamar. Di kamar kami tak langsung tidur, kami memukul-mukul lemari untuk mengusir makhuk bernama wirog itu. Tapi sang wirog tak kunjung keluar. Akhirnya kami berhenti memukul-mukul lemari dan melanjutkan tidur. ketika aku baru saja terlelap, tiba-tiba...
"Hwa....!!!Sakit...!! Dasar wirog sialan...!!!!" Indri berteriak keskitan.
"Kenapa, Ndri?" tanyaku.
"Kaki Indri digigit wirog neh... Duh... Sakit banget.." jawab Indri.
"Darahnya netes tuh, cuci dulu deh di kamar mandi" kataku saat melihat darah menetes dari kaki Indri.
Kami pun ke kamar mandi. Luka di kaki Indri lebih besar dan lebih banyak mengeluarkan darah daripda lukaku. Setelah itu kami kembali ke kamar. tapi Indri memintaku untuk tidur di kamar tetangga karena khawatir digigit wirog lagi. Aku setuju dan langsung menggedor pintu kamar tetangga.
"Sapur...! Teh Mus...! Dewi..! Bukain pintu dong...!!" Indri berteriak sambil menggedor pintu.
"Buka aja, belom dikunci koq..." terdengar jawaban dari dalam.
Aku dan Indri membuka pintu dan masuk ke kemar Safuroh. Kulihat Safuroh sedang sms-an dengan temannya, sedangkan Musfiroh dan Dewi masih tidur.
"Pada kenapa sich, koq pada bete gitu mukanya?" tanya Safuroh.
"Gimana gak bete, kita jadi korban gigitan wirog neh..." jawab Indri.
"Hah? Siapa yang digigit wirog?" tanya Musfiroh yang terbangun gara-gara suara Indri.
"Saya sama Indri jadi korban wirog," jawabku.
"Sap, koq belom tidur sich?" tanya Indri.
"He.. Lagi sms-an sama temen," jawab Safuroh
"Owh... Berarti tadi denger dong pas kita lagi mukul-mukul lemari?" kataku.
"Hah? Tapi Safuroh gak denger loh..." kata Safuroh.
"What?! Gak denger? Segitu kersanya koq gak denger?" Indri kaget
"Huh... Saking khusyu'nya sms-an tuch... Mus aja yang lagi tidur denger koq da yang ngedorin lemari," kata Musfiroh.
"Hehehe... Oia, neh kasih betadin biar gak infeksi," kata Safuroh sambil memberi kami betadin.
"Makasih" kata Indri.
"Sap, kita nginep di sini yach?" kataku meminta izin.
"Ya udah nginep aja," kata Safuroh.
Akhirnya aku dan Indri tidur di kamar Safuroh. Saat itu sudah hampir subuh, tapi kami tetap melanjutkan tidur. Pada saat adzan subuh berkumandang, kami semua bangun untuk menunaikan sholat subuh. Setelah sholat, aku, Indri, dan Musfiroh tidur lagi karena kami memang kurang tidur dan merasa tak enak badan. Dewi yang tadinya mau mengaji malah ikut tidur lagi. Jadilah kami berempat bolos ngaji di hari Minggu... Hehehe....